THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES
Tampilkan postingan dengan label dayak culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dayak culture. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Mei 2010

Evaluasi Besar Event " NAIK DANGO "

Saya sangat sepakat jika event “Naik Dango” ( suatu event ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yg melimpah terutama hasil panen besar ) di evaluasi ulang karena beberapa faktor, tidak sedikit rumah adat yang di bangun terbengkali pasca Naik Dango, solusi : untuk memudahkan Promosi dapat di pusatkan disatu tempat saja, misal saja di Kabupaten. Ini dilakukan agar pembengkakan anggaran bisa di hindari, karena selama ini terlalu boros anggaran untuk pembuatan rumah adat setiap tahunnya, bisa kita bayangkan untuk peserta naik dango di Kab Landak ( KALBAR ) berjumlah 23 Kecamatan, jika dilaksanakan bergilir, otomatis 23 tahun kemudian baru dipakai kembali rumah adatnya. So apa yg terjadi dengan rumah adat kalau udah 23 tahun ga dipakai,dijamin rusaklah! sementara yg baru aja udah rusak, yg tak kalah pentingnya agar dalam event Naik Dango, nama tokoh pelopor pesta ini di abaikan sehingga ada kesan sendiri. Ini semata mata di lakukan untuk membawa event Naik Dango dapat dikenal luas, karena jika boleh jujur Event naik Dango ini sangat belum ter “EXSPOSE”, sedangkan ini aset budaya yg sangat menjanjikan….!! To be continue…
Salam dariku dari tanah rantau…..!!

Read More......

Kamis, 05 Februari 2009

Upacara "Tiwah" dan "Mangkok Merah" save to culture 3

Upacara Tiwah

Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.

Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).



Mangkok merah

Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan. Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. “Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.

Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu. Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.

Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah. Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia. Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau” ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang” ).

Read More......

"Keberadaan suku dayak dan asal usulnya", save to culture 2

Mencoba menerawang kembali keberadaan suku dayak dan asal mulanya, berikut sedikit cerita tentang itu semua , Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.

ASAL MULA
Pada tahun (1977-1978) saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.

Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda.

Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608).



Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum)

Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.

Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.

Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)

Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.

Read More......

Selasa, 02 September 2008

"Event “ Naikan Padi Barahu” ( Naik Dango ) Bagi Orang Dayak Kanayatn" Save To Culture 1

Mencoba menerawang kembalI arti sebenarnya dari event “Naik Dango”, Bagi kebanyakan orang dayak pastinya sudah tahu apa itu naik dango, ok’s saya jelasin sedikit! Secara umum naik dango adalah: suatu event , suatu pesta besar ungkapan rasa syukur kepada Jubata (tuhan) atas hasil bumi yang telah diberikan kepada kita (orang dayak) dari hasil bercocok tanam padi dsb….! Bagi kebanyakan orang dayak ini wajib dilakukan , dulu kala event besar ini biasa digunakan untuk saling “bakonyonk”( bertamu ) antar keluarga,tetangga,teman2 , dll…..! event ini juga digunakan untuk saling sharing tentang permasalahan yang terjadi dikampung tersebut, karena saat2 seperti ini pula mereka dapat berkumpul satu sama lain, perlu diketahui bahwa kebanyakan mereka tinggal di Hutan untuk semntara waktu untuk bercocok tanam padi, karena lokasi kampung ke tempat berladang,sawah sangat jauh so untuk mengintensifkan waktu dan tidak terlalu capek , mereka tinggal dihutan ( oupzzzzz………saya lupa apa nama kegiatan ini dalam bahasa dayaknya ), banyak hal yang sangat mengasyikan dalam event ini terutama kita dapat bertemu keluarga besar, bagi saya pribadi yang sangat mengasyikan dalam event ini adalah: “Makanan” wajib dari Naik dango itu sendiri yakni “BONTOKNG” (sejenis makanan yang terbuat dari beras yang baru dipanen kemudian di masukan di daun “layakng” (saya kurang tahu bahasa indonesianya apa), dimasaknya pun agak unik yakni dimasukan dalam bambu besar kemudian dibakar hingga masak, aroma yang tercipta benar2 sangat khas sekali, ga ketinggalan pula hidangan wajibnya : “PO’E” (beras ketan yang dimasak dalam bambu) serta “ TUMPI” ( Cucur dalam bahasa indonesianya ) dan ga ketinggalan pula minuman khas dayak itu sendiri “TUAK”. Untuk itu semua, Mereka (orang dayak) benar2 habis-habisan untuk mempersiapkannya karena ini terjadi setahun sekali, benar2 sangat mengasyikkan melihat fenomena ini, acungan jempol dech………………..!

perhelatan ini biasanya berlangsung selama beberapa hari, event ini biasanya dimulai dengan suatu upacara adat “NYANGAHTN” (berdoa) oleh pangatuha kampung (orang yang memiliki kemampuan untuk berbicara kepadaNya) ketempat yang bagi orang dayak sangat dikeramatkan, disitu mereka meminta petunjuk, izin untuk mengadakan event ini. Timbul pertanyaan kenapa mereka meminta izin segala untuk mengadakan event ini?....menurut sumber yang saya ketahui sesuai dengan tagline “ adil ka’talino bacuramin ka’saruga ba’sengat ka’jubata” (dari ensiklopedia yang saya baca mempunyai arti bahwa semua kehidupan umat manusia dibumi ini baik tingkah laku, perbuatan, itu jubata yang mengaturnya dan dia tahu apa yang terbaik dan yang tidak yang harus dilakukan, dan kesemuanya itu akan kembali kepadaNya ) Jadi untuk itulah mengapa mereka selalu mengadakan upacara adat nyangahatn ini,dan perlu juga digarisbawahi bahwa nyangahatn merupakan pembuka setiap ritual/event orang dayak khususnya dayak kanayatn, dan akhirnya…..perhelatan ini ditutup dengan suatu adat “ BALALA” (singkat: suatu upacara adat dimana semua orang yang tinggal disuatu kampung tersebut tidak melakukan aktifitas sama sekali, keadaan kampung yang mengadakan ritual ini bener2 sunyi seperti ga da kehidupan) ritual ini berlangsung biasanya 3 hari, selama ini pulalah tidak ada aktifitas, tidak boleh berkunjung, dan tidak diperkenankan memasuki kampung tersebut, kalau semua itu dilanggar maka harus bayar adat (ga tau Euy bayar adatnya kaya gmana?.........) yang jelas jika dilanggar akan mendapat hal2 yang ga diinginkan! Adapun makna dari “balala “tersebut adalah : membersihkan hal2 yang menganggu dikampung tersebut misalnya : membuang sial,membuang penyakit, dlll……..(ga tau bnyk euy). Ini baru sedikit cerita ttg culture ditubuh orang dayak khususnya dayak kanayatn, masih banyak lagi culture2 yang belum diceritakan disini! Saya sebagai anak dayak kanayatn hanya berharap agar semua culture2 yang ada tetap dijaga dan tidak terpengaruh seiiring perkembangan dunia modern, karena ini aset yang mesti dijaga dan dilestarikan. Hayooooo…..muda/I dayak dimanapun berada mari kita bersama turut mempromosikan, menjaga budaya kita dan membawa ke level yang lebih tinggi!
“kade buke diri Sae agi”………………..to be continue!


Read More......

Rabu, 21 Mei 2008

"Ritual Balala' Memberikan Kedamaian"

BALALA’ salah satu bagian dari tatanan Adat Budaya Dayak (Sub Suku Dayak Kanayatn/ (Bahasa Badamea dan Bahasa Baahe), tentu juga tidak terlepas dari bagian tatanan Adat Nasional dan Internasional.

Balala' merupakan ritual adat yang religius. Sayang Balala' belum dikenal oleh lapisan masyarakat Dayak secara menyeluruh. Begitu pun ditingkat Nasional Balala' belum terpandang, lantaran Panatua-Panatua Adat belum berani mempromosikannya dalam bentuk sajian secara khusus yaitu: "Balala' ". Ritual Balala' memberi kedamaian dalam kehidupan beradat-istiadat, berbangsa dan bernegara. Perlu permenungan dalam Balala', didalamnya; masyarakat Adat diajak melakukan Instrospeksi (Menginrospeksi). Intropeksi dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti: Peninjauan terhadap sikap diri-sendiri (mawas diri). Didalam Balala' juga ada unsur "TolakBala", yang fungsinya : Meredam kejadian-kejadian yang dapat mengganggu kehidupan manusia, dan sangat efektif dalam meredam gejolak sosial dam menjauhkan segala bentuk mala petaka dan mara bahaya.

Ritual Balala' dihubungkan dengan Ritual Agama memiliki kesesamaan sifat religius. Kemiripannya, antara lain dalam agama Katolik adalah Pantang dan Puasa, dalam agama Islam yaitu Puasa, dalam agama Hindu yaitu Nyepi. Dengan adanya kesamaan sifat, makna dan tujuan, "Balala' " tidak berlawanan dengan Agama.


Pergertian Balala'
Pandangan saya : berpantang melakukan setiap pekerjaan yang berhubungan dengan padi ladang/sawah. Berpantang melakukan pekerjaan bahkan memetik daun, pantang makan makanan/masakan tertentu.

Balala' dalam masyarakat Dayak; perlu diangkat dan diperkenalkan secara luas. Ritual ini sarat dengan nilai-nilai sosial dan budaya. Juga merupakan wujud nyata kedekatan hubungan manusia Dayak dengan alam, dan kepedulian mereka terhadap lingkungannya. Balala' bertujuan: ngiliratn (menghilirkan/menghanyutkan) penyakit padi dan ngiliratn antu (hantu) afat (membuang bahaya kelaparan).

Menurut saya pantang dan Puasa (Amai'/amali') dan menahan diri. Tidak boleh makan-makanan dan tidak boleh minum-minuman yang terlarang. Intinya mampu menahan "hawa nafsu" yang negatif. Kita dituntut untuk membersihkan diri (bertobat). Balala' merupakan bagian dari tatanan Adat Budaya Dayak yang juga sudah mentra disi secara turun-temurun dalam budaya tahunan Dayak Kanayatn. Balala' juga merupakan inti Upacara Adat Dayak. Karena Balala' mengandung nilai religiun yang sangat tinggi dan amat sakral. Dengan adanya sesama, berdamai dengan alam dan seisinya benar untuk dinasionalkan, bahkan perlu diinternasionalkan (go international).

Mengingat carut-marutnya stabilitas nasional kita sekarang ini, yang mengalami krisis multi dimensi, dimana ada banyak musibah yang menimpa negeri kita ini, baik dari alam maupun dari tindakan-tindakan sekelompok kecil orang yang tidak bertanggung jawab. Ini akibat dari lupa berintrospeksi, dan tidak mau "Balala' ". Pagelaran atau pengetasan "Balala' " ada baiknya, terutama :

1). Untuk menambah kasanah budaya bangsa

2). Dapat menjadi ajang wisata; baik domestik, maupun wisata manca negara

3). Kalimantan dapat dijadikan "Taman Jubata"

4). Kehidupan menjadi aman, damai, dan sejahtera.

Ritual Balala' menjadi go publik apabila: para sesepuh, pamane (cendikiawan), dan aparatur pemerintah sadar akan keberadaan adad istiadat. Semoga Balala' dapat dimegerti bersama. Untuk dapat mewujudkan Balala' bukan sekedar impian, tetapi perlu menyatukan visi dan misi antar masyarakat adat beradat. Ini semua perlu dukungan bersama (oleh semua pihak). Yang sangat diharapkan terutama perjuangan dari para Dewan Adat, buktinya bahwa kamu mampu.

Adil Ka Talino, Bacuramin Ka Saruga, Basengat Ka' Jubata. Kuuuura'am. Yang artinya: Adil di dunia, berpandangan di surga, bernapaskan dari Allah. Syukur kepada Allah.

Read More......